Laman

Kamis, 27 Oktober 2011

Sistem Governor pada Mesin

GOVERNOR MESIN DIESEL

Fungsi Governor secara umum adalah untuk mengontrol secara otomatis penyaluran bahan bakar sesuai dengan beban mesin.

Fungsi Governor secara spesifik adalah sebagai berikut:
1. Memudahkan mesin hidup saat start dengan memperbanyak penyuplaian penginjeksian bahan bakar
2. Mempertahankan putaran setiap posisi
3. Membatasi kecepatan idle
4. Membatasi kecepatan maksimum

Governor menurut mekanismenya dapat dibagi dua macam:
1. Jenis Pneumatic (diafragma)
2. Jenis Mekanik (sentrifugal)

Prinsip Kerja Gvernor Pneumatic

1. Saat Mesin Start
Pada saat mesin start kevakuman menjadi kecil, venturi tambahan belum mampu mengalahkan main spring sehingga mainspring mendorong diafragma ke kanan dan control rack ke kanan. Langkah efektif makin panjang dan bahan bakar yang diinjeksikan juga semakin banyak

2. Saat putaran idle
Kevakuman venturi tambahan makin besar dan mampu mengalahkan main spring dan control rack bergerak ke kiri, langkah efektif menjadi pendek dan kndisi ini idling spring mempertahankan diafragma

3. Saat putaran maksimum
Pada saat pedal diinjak, throttle membuka penuh kevakuman pada venturi tambahan makin kecil, mainspring mendorong diafragma ke kanan dan control rack bergerak ke kanan dan langkah efektif menjadi makin panjang dan bahan bakar diijeksikan lebih banyak

4. Saat Beban Maksimum
Pada saat beban maksimum, throttle membuka penuh, kevakuman pada venturi tambahan makin kecil, mainspring mendorong diafragma ke kanan dan control rack bergerak ke kanan dan langkah efektif makin panjang. Pada saat ini kecepatan diatur oleh full boadspring.

Prinsip Kerja Governor Mekanik
Bila mesin berputar lambat (idle), gaya sentrifugal yang terbentuk belum mampu untuk menekan pegas (spring) atau dengan kata lain gaya sentrifugal yang terbentuk sangat kecil, dengan demikian fuel control rack belum dapat bergerak
Bila kecepatan mesin bertambah, gaya centrifugal yang terjadi akan bertambah besar sehingga mampu menggerakkan flyweight kea rah luar
Gaya centrifugal yang terjadi ini sekarang mampu untuk menekan pegas (spring). Dengan tertekannya pegas oleh gaya centrifugal maka fuel control rack akan bergerak kea rah kiri. Fuel control rack ini akan berhenti bergerak apabila gaya centrifugal sudah setimbang dengan gaya pegas

Sumber: Step 2 Engine Group Toyota Astra Motors

Senin, 03 Oktober 2011

Tali Baja

1.KONSTRUKSI

Wire Rope adalah tali baja yang terbuat dari beberapa WIRE yang dipilin membentuk STRAND, lalu beberapa STRAND tersebut dipilin mengelilingi CORE untuk membentuk wire rope.


Konstruksi menyatakan banyaknya wire dan strand dalam suatu wire rope.
Format konstruksi wire rope : Banyaknya Strand x Banyaknya Wire.

Contoh: Wire Rope 6 x 37 terdiri dari 6 strand yang mengelilingi 1 core dimana masing masing strand terdiri dari 37 wire.



Semakin banyak jumlah wire didalam strand membuat ukuran individual wire lebih kecil sehingga wire rope lebih flexible, sebaliknya semakin sedikit jumlah wire di dalam strand membuat ukuran wire menjadi lebih besar sehingga wire rope menjadi lebih kaku.

Wire Rope yang flexible mempunyai daya tahan terhadap tekukan yang baik sehingga cocok digunakan pada crane. Wire rope dengan ukuran individual wire yang besar mempunyai ketahanan terhadap gesekan yang baik sehingga sesuai digunakan untuk menari.

2.CORE/HATI

Core wire rope umumnya terdiri dari 3 bahan:
Fiber Core (FC) – tali plastic.
Hemp Core (HC) – tali manila.
Wire Core (IWRC) – kawat baja.

Keuntungan FIBER (FC) atau HENEP CORE (HC) adalah wire rope lebih flexible dan lebih tahan karat. Keuntungan WIRE CORE (IWRC) adalah breaking load yang lebih tinggi.


3.UKURAN

Ukuran diameter wire rope dinyatakan dalam mm atau inch dan dapat diukur menggunakan sigmat. Ilustrasi berikut menunjukkan cara mengukur wire rope yang salah dan benar:



Faktor yang mempengaruhi ukuran wire rope adalah besarnya sheave yang dilalui wire rope dan beban yang akan digerakkan oleh wire rope.

4. ASAL

Saat ini wire rope yang kita stock berasal dari 2 negara: RRT dan Korea. Wire rope Korea menawarkan kualitas yang lebih tinggi dan kualitas yang konsisten.

5. PUTARAN

Putaran menunjukkan arah strand wire rope diputar mengelilingi Core.
Wire rope strand yang diputar searah jarum jam disebut Putaran Kanan atau Right Hand Regular Lay disingkat (RHRL). Sebaliknya strand yang diputar berlawanan arah jarum jam disebut Putaran Kiri atau Left Hand Regular Lay (LHRL).

Untuk membedakan, wire rope PUTARAN KANAN jika dilihat secara vertikal, sudut pada strand akan membentuk huruf “Z”, sedangkan wire rope PUTARAN KIRI, jika dilihat secara vertikal akan membentuk huruf “S”.

6. FINISHING

2 type finishing wire rope:
- BRIGHT/UNGALVANIS
- GALVANIS

Wire rope galvanis permukaan luarnya berwarna putih karena dilapisi zinc. Keuntungannya lebih tahan karat daripada wire rope ungalvanis. Kerugiannya: harganya lebih mahal. Wire rope ungalvanis keuntungannya lebih murah namun kurang tahan karat dibandingkan wire rope galvanis.

7. QUANTITY

Panjang Wire Rope yang akan digunakan, biasa dinyatakan dalam meter.

8. GRADE

Wire rope diproduksi berdasarkan beberapa grade. Setiap grade memberikan kombinasi tensile strength, kekerasan, ketahanan terhadap gesekan dan tekukan yang berbeda.

Standard industri yang banyak dipakai untuk menentukan grade adalah A.P.I (American Petroleum Institute) dan JIS (Japan Industrial Standard).

9. LUBRIKASI

Lubrikasi pada wire rope berfungsi mencegah karat dan mengurangi gesekan antar strand dan wire didalam wire rope sehingga memperpanjang usia.

Empat jenis lubrikasi yang umum:
Dry: tanpa gemuk hanya dilapisi minyak ringan dibagian dalam core dan strand.
A: Gemuk ringan, warna coklat kekuningan biasa diaplikasikan pada wire rope galvanis.
B: Gemuk hitam.
C: Gemuk hitam pekat, memberi proteksi yang baik terhadap karat. Ideal digunakan di laut, konstruksi, dan logging.

http://www.asmarines.com/pemesanan-wire-rope

TIPS MEMILIH WIRE ROPE BERKUALITAS

Harga wire rope sangat bervariasi, mulai dari yang paling murah sampai yang paling mahal.
Supaya anda tidak salah pilih, pastikan:

  1. Jika anda membeli wire rope berkualitas dari Korea, Jepang, atau Eropa pastikan wire rope anda datang dengan ID tape untuk memastikan wire rope yang anda terima benar benar asli.



  2. Jika anda membeli wire rope RRT pastikan:
    • Panjang wire rope yang anda terima tidak kurang. Cara mudah mengecek panjang wire rope adalah dengan cara menimbang wire rope yang anda terima.
    • Diameter wire rope full, tidak kurang / banci.
    • Putaran wire rope tidak renggang. Wire rope yang renggang saat dipotong ujungnya mudah buyar dan saat dipakai cepat rusak.
    • http://www.asmarines.com/tips-memilih-wire-rope-berkualitas

    Tali baja

    Tali baja : Struktur, diameter dan pemakaiannya

    Contoh tali baja yang umum untuk di laut

    Type

    Struktur dan diameter

    Contoh penerimaan

    S

    PETUNJUK PRAKTIS BAGI NELAYAN

    7 x 7 (6/1)
    Inti tengah : baja
    Æ 12 sampai 28 mm

    Standing rigging

    +

    6 x 7 ( 6/1 )
    Inti tengah : tekstil
    Æ 8 Sampai 16 mm

    Standing rigging
    Harp untuk trawler kecil
    Kapal-kapal kecil

    +

    6 x 12 (12/fibre)
    Inti tengah : strand cores,
    serat, Æ 8 sampai 16 mm

    8ridle dan warp pada trawl
    kecil
    Morring dan running rigging

    ++

    6 x 19 (9/9/1)
    Inti tengah : darl baja
    atau textil, Æ 16 - 30 mm

    Tali penarik trawl (warp)

    +

    6 x 19 (12/6/1)
    Inti tengah : darl tekstil
    Æ 8 sampai 30 mm

    Tali penyapu (sweep) dan warp pada trawl Running rigging

    +

    6 x 24 (15/9/fibre)
    Inti tengah : darl tekstil
    Running rigging

    Tali penyapu (sweep) dan warp
    pada trawl
    Running rigging

    +

    6 x 37 (18/12/6/1)
    Inti tengah : dari tekstil
    Æ 20 sampai 72 mm

    Purse wire
    Morring dan running
    Rigging mooring

    ++

    S = kelenturan

    + = kurang atau rata - rata

    ++ = baik

    Sebagai aturan umum, makin banyak jumlah strand dan makin banyak jumlah filament per strand makin lentur tali tersebut.

    Tali baja galvanis : runnage, breaking strength

    (strukturnya lihat halaman 24)

    Contoh

    6 x 7 (6/1)

    diam.
    mm

    kg/
    100 m

    R
    kgf

    8

    22.2

    3 080

    9

    28.1

    3 900

    10

    34.7

    4 820

    11

    42.0

    5 830

    12

    50.0

    6 940

    13

    58.6

    8 140

    14

    68.0

    9 440

    15

    78.1

    10 800

    16

    88.8

    12 300

    6 x 19 (9/9/1)

    diam.
    mm

    kg/
    100 m

    R
    kgf

    16

    92.6

    12 300

    17

    105

    13 900

    18

    117

    15 500

    19

    131

    17 300

    20

    145

    19 200

    21

    160

    21 200

    22

    175

    23 200

    23

    191

    25 400

    24

    208

    27 600

    25

    226

    30 000

    26

    245

    32 400

    6 x 24 (15/9/fibre)

    diam.
    mm

    kg/
    100m

    R
    kgf

    8

    19.8

    2 600

    10

    30.9

    4 060

    12

    44.5

    5 850

    14

    60.6

    7 960

    16

    79.1

    10 400

    18

    100

    13 200

    20

    124

    16 200

    21

    136

    17900

    22

    150

    19 700

    24

    178

    23 400

    26

    209

    27 500

    6 x 12(12/libre)

    diam
    mm

    kg/
    100 m

    R
    kgf

    6

    9.9

    1 100

    8

    15.6

    1 940

    9

    19.7

    2 450

    10

    24.3

    3 020

    12

    35.0

    4 350

    14

    47.7

    5 930

    16

    62.3

    7 740

    6 x 19(12/6/1)

    diam
    mm

    kg/
    100 m

    R
    kgf

    8

    21.5

    2 850

    10

    33.6

    4 460

    12

    48.4

    6 420

    14

    65.8

    8 730

    16

    86.0

    11 400

    18

    109

    14 400

    20

    134

    17 800

    22

    163

    21 600

    24

    193

    25 700

    6 x 37 (18/12/6/1)

    diam
    mm

    kg/
    100m

    R
    kgf

    20

    134

    17 100

    22

    163

    20 700

    24

    193

    24 600

    26

    227

    28 900

    R = Daya tahan putus (baja 145 k gf/ mm2 )

    * Safe working load, lihat halaman 5.

    Penanganan tali baja

    NO

    Yes

    PETUNJUK PRAKTIS BAGI NELAYAN

    PETUNJUK PRAKTIS BAGI NELAYAN

    Penggulungan ke gelondongan tergantung pada arah pilinan tali

    PETUNJUK PRAKTIS BAGI NELAYAN

    penyesuaian tali baja dengan drum dan sheaves

    ⊕ Drum: Hubungan diameter drum (D) dengan diameter tali baja (Ø) yang digulung
    PETUNJUK PRAKTIS BAGI NELAYAN D/Ø tergantung struktur tali baja dan situasi, D harus ber-kisar antara 20 Ø - 48 Ø. Dalam praktek dikapal perikanan, tergantung pada luas tempat yang tersedia, biasanya : 0 = 14 Ø atau lebih
    ⊕ Sheaves: Hubungan diameter sheave (1) dengan diameter tali baja (Ø) yang melwatinya –
    PETUNJUK PRAKTIS BAGI NELAYAN D/ Ø tergantung struktur tali baja dan keadaan khusus, D ber-kisar antara 20 Ø - 48 Ø. Dalam praktek di kapal perikanan, tergantung pada luas tempat yang tersedia, biasanya : D = 9 Ø atau lebih

    Lebar sheaves dibanding diameter tali baja

    PETUNJUK PRAKTIS BAGI NELAYAN

    ⊕ Letak sheave terhadap drum

    PETUNJUK PRAKTIS BAGI NELAYAN

    Sudut maksimum tali baja antara tempat gantungan sheaves dan drum yang diputar otomatis atau manual

    (Agar sheave bisa berputar dengan sudut yang bergantian, lebih baik menggantung block secara fleksibel dibanding dipasang menetap).

    ⊕ Klem tali baja harus dipasang dengan baut pada bagian tali baja yang tengah

    PETUNJUK PRAKTIS BAGI NELAYAN

http://www.fao.org/docrep/010/ah827o/ah827id03.htm

Rabu, 28 September 2011

TRANSFORMATOR



Transformator adalah suatu alat untuk memindahkan daya listrik arus bolak – balik dari suatu rangkaian ke rangkaian lain secara induksi electromagnet.


Suatu transformator terdiri dari 2 buah kumparan (gulungan) kawat email. Kumparan pertama disebut gulungan primer dan kumparan yang kedua disebut sekunder.
Bahan – bahan yang diperlakukan untuk menggulung suatu transformator antara lain :

a. Kern
Kern atau teras besi lunak yang terbentuk dari kumparan besi lunak yang mengandung silicon yang berbentuk seperti

huruf E dan I





b. Koker
Koker atau rumah atau tempat mengulung kumparan primer dan sekunder



c. Kawat email
Kawat email yang terbuat dari tembaga yang dilapiskan bahan isolasi yang tahan panas.

Penentuan Gulungan atau volt
Pada system penggulungan trafo biasa terjadi penyimpangan kerugian Seperti kerugian kawat email dan kurang panas tidak diperhitungkan. Kerugian seperti ini sekitar 20% sampai 30% dari tembaga gulungan Primer.
Apabila kita ingin merencanakan gulungan sekunder 100 watt,maka Tenaga primer harus lebih 20% sampai 25% dari tenaga sukunder. Yang harus selalu diingat bahwa setiap kali tegangan gulungan Sekunder diberi beban tegangannya akan turun.


Keterangan :
I2 =arus yang mengalir ke beban
E1=tegangan gulungan primer dari PLN
E2=tegangan gulungan sekunder
Dinegara kita tegangan listrik berfrekuensi sekitar 50 sampai 60 Circle/second oleh sebab itu untuk menghitung gulungan pervolt kita.

Dapat memakai rumus:
Circle per second x 1 gulungan
Keliling besi kern untuk koker

Untuk menghindarkan panasnya transformator tenaga kita dapat memakai standar 56 circle/second sebagai dasar perhitungan
Jadi rumus perhitungan jumlah gulungan per volt:

56 x 1 gulungan
Keliling besi kern untuk koker


GULUNG PER VOLT
Yang dimaksud dengan gulungan per volt yaitu sejumlah gulungan kawat yang disesuaikan untuk tegangan sebesar 1 Volt.
Untuk menetapkan besar jumlah gulung per volt dipakai ketentuan :


Rumus : gpv = f / O
Dimana
Gpv = jumlah gulang per volt
f = frekuensi listrik (50 Hz)
O = luas irisan teras diukur dengan cm. (hasil kali dari lebar dan tinggi tempat gulungan

Contoh 1 :
Sebuah tempat gulung kawat transformator mempunyai ukuran lebar 2,5 Cm dan tinggi 2 cm. Besar jumlah gulungan per volt :
Jawab :

gpv = f / O
f = 50 Hz
O = 2,5 x 2 = 5 Cm2
gpv = 50 / 5
= 10 gulung / volt

(setiap 10 lilitan kawat berlaku untuk tegangan sebesar 1 volt)

Contoh 2 :
Dibutuhkan sebuah transformator dengan tegangan 220 V untuk gulung primer dan tegangan 6 V digulungan sekundernya, lebar tempat gulungan kawat 2,5 cm dan tinggi 2 cm. Berapa jumlah gulungan atau banyaknya lilitan untuk kawat primer dan sekunder.
Jawab :
O = 2,5 x 2 = 5 cm2
gpv = 50 / 5 = 10

Jadi untuk gulung primer dibutuhkan sejumlah 220 x 10 = 2200 lilitan. Untuk gulungan sekunder dibutuhkan 6 x 10 = 60 lilitan. Mengingat selalu adanya tenaga hilang di tansformator jumlah lilitan digulungan sekunder ditambahkan 10% = 60 +6 = 66 lilitan.
Dengan jumlah lilitan tersebut diatas maka bila gulung primer dihubungkan kepada tegangan listrik jala – jala sebesar 220 V, gulungan sekundernya menghasilkan tegangan sebesar 6 volt.


GARIS TENGAH KAWAT
Garis tengah atau tebal kawat tembaga menentukan kemampuan kawat dilalui arus listrik. Bila listrik yang mengalir didalam kawat melebihi kemapuan dari kawat akan mengakibatkan kawat menjadi panas dan jika arus yang melalluinya jauh lebih besar dari kemampuan kawat , kawat akan terbakar dan putus.

Mod.Note: Original articel by midaselnica on Senin, 2009 April 06

Tabel garis tengah kawat



Contoh 3:
Suatu alat memakai alat tenaga listrik 400 Watt dipasang pada tegangan 20 V. Untuk menghubungkan alat tersebut ke sumber aliran dibutuhkan kawat yang bergaris tengah :
W = 400 Watt
E = 200 Volt
I = W/E I = 400/200 I = 2 Ampere

Agar mampu dilewati arus sebesar 2 A dipakai kawat dengan ukuran garis tengah 1 mm. Transformator jala-jala umumnya mempunyai gulungan yang bercabang guna menyesuaikan
tegangan.


Contoh perencanaan mengulung trafo :
Perencanakan sebuah transformator jala-jala dengan data-data sebagai berikut:
Teras besi yang dipergunakan mempunyai lebar 2,5 Cm dan tinggi 2 Cm. Dikehendaki gulung primer untuk dipasang pada tegangan 110 V atau 220 V dan gulung sekunder yang menghasilkan tegangan 6 V dan 9 V, yang menghasilkan arus 500 mA.
Tentukan berapa jumlah gulung primer dan gulung sekunder beserta cabang - cabangnya. Berapa ukuran tebal kawat yang dibutuhkan.
Pemecahannya:
0 = 2,5 x 2 = 5 Cm2.
gpv = 50/5 = 10.
Jumlah gulungan primer untuk 110 V: 110 X 10 = 1100 lilitan
Jumlah gulung primer untuk 220 V: 220 X 10 = 2200 lilitan.
Jumlah gulungan sekunder untuk 6 V: 6 X 10 = 60 lilitan + 10% = 66 lilitan.
Jumlah gulungan sekunder untuk 9 V: 9 X 10 = 90 lilitan + 10% = 99 lilitan.

Cara menggulung kawatnya untuk tegangan 110 V dan 220 V tidak digulung sendiri-sendiri, tetapi cukup mencabang sebagai berikut: digulung dulu sebanyak 1100 lilitan untuk 110 V, kemudian ujung dari akhir gulungan disalurkan keluar sebagai cabang untuk kemudian digulung lagi sebanyak 1100 lilitan lagi untuk tegangan 2200 V.
Demikian halnya digulung sekunder: kawat digulung dulu sebesar 66 lilitan untuk tegangan 6 V kemudian di cabang, untuk kemudian ditambah gulungan lagi sebesar 33 lilitan buat tegangan 9 V.
Selanjutnya untuk menentukan tebal atau diameter kawat digulung primer dan digulung sekunder dilakukan sebagai berikut:
Tebal kawat sekunder:
Karena gulung sekunder telah ditentukan mempunyai besar arus 500 mA diperlukan kawat yang mempunyai diameter 0,5 mm (dilihat di daftar tebal kawat)

Tebal kawat primer:
Untuk menentukan tebal kawat untuk kawat gulungan primer harus diketahui besar arus primer.
Besar arus primer: II = WL/EI
II = besar arus primer.
WL = tenaga digulung primer.
EI = tegangan primer.

Karena besar tegangan primer juga belum diketahui, maka dapat ditentukan dengan memakai

RUMUS :W1 = 1,25 X W2 (rendemen dianggap 80%)

W1 = besar tegang digulung primer
W2 = besar tegangan digulung sekunder.

Besar tegangan sekunder W2 = E2 X 12.
W2 = tegangan sekunder.
E2 = tegangan sekunder.
Besar arus dan tegangan sekunder telah diketahui yaitu: 9 V, 0,5 A. (500mA)
Besar tegangan sekunder : W2 = 0 X 0,5 = 4,5 Watt.
Besar tegangan primer : W1 = 1,25 X W2
= 1,25 X 4,5
= 5,625 Watt dibutuhkan 5,6 Watt.
Besar arus primer : I1 = W1/E1
I1 = 5,6/220
= 0,025 A = 25 mA.
Menurut daftar tebal kawat primer untuk untuk 25 mA berukuran: 0,15 mm. Dari keterangan di atas transformator yang direncanakan mempunyai ukuran-ukuran seperti dibawah ini:




Jumlah gulung primer untuk 110 V: 1100 lilitan, diberi cabang kemudian digulung lagi sebanyak 1100 lilitan, untuk 220 V.
Gulung sekunder untuk 6 V: 66 lilitan, diberi cabang dan ditambah 33 lilitan untuk 9 V. Tebal kawat 0,15 mm. Tebal kawat sekunder 0,5 mm.


Cara menggulung kawat trafo
dipraktek dilkukan dengan melilitkan kawat secara merata syaf demi syaf. Antara syaf satu dengan yang lainnya diberi isolasi kertas tipis. Pembuatan cabang dari lilitan dilakukan dengan membengkokkan kawat diluar lilitan, untuk kemudian dilanjutkan manggulung lagi kawat sampai selesai.
Guna melakukan itu semua pada lobang tempat gulungan dimasukkan sepotong kayu ukuran yang sesuai yang pada kedua belah ujungintinya dimasukkan as dari logam yang berhubungan dengan alat pemutar. (lihat gambar)
Apakah bagian primer atau sekunder yang digulung terlebih dulu tidak menjadi soal karena kedua akan memberi hasil yang sama.

Mod.Note:
Original articel by midaselnica on Senin, 2009 April 06

Komponen Transformator (trafo)

Transformator (trafo) adalah alat yang digunakan untuk menaikkan atau menurunkan tegangan bolak-balik (AC). Transformator terdiri dari 3 komponen pokok yaitu: kumparan pertama (primer) yang bertindak sebagai input, kumparan kedua (skunder) yang bertindak sebagai output, dan inti besi yang berfungsi untuk memperkuat medan magnet yang dihasilkan.


Bagian-Bagian Transformator


Contoh Transformator Lambang Transformator

Prinsip Kerja Transformator

Prinsip kerja dari sebuah transformator adalah sebagai berikut. Ketika Kumparan primer dihubungkan dengan sumber tegangan bolak-balik, perubahan arus listrik pada kumparan primer menimbulkan medan magnet yang berubah. Medan magnet yang berubah diperkuat oleh adanya inti besi dan dihantarkan inti besi ke kumparan sekunder, sehingga pada ujung-ujung kumparan sekunder akan timbul ggl induksi. Efek ini dinamakan induktansi timbal-balik (mutual inductance).

Pada skema transformator di samping, ketika arus listrik dari sumber tegangan yang mengalir pada kumparan primer berbalik arah (berubah polaritasnya) medan magnet yang dihasilkan akan berubah arah sehingga arus listrik yang dihasilkan pada kumparan sekunder akan berubah polaritasnya.





Hubungan antara tegangan primer, jumlah lilitan primer, tegangan sekunder, dan jumlah lilitan sekunder, dapat dinyatakan dalam persamaan:





Vp = tegangan primer (volt)
Vs = tegangan sekunder (volt)
Np = jumlah lilitan primer
Ns = jumlah lilitan sekunder
Simbol Transformator

Berdasarkan perbandingan antara jumlah lilitan primer dan jumlah lilitan skunder transformator ada dua jenis yaitu:

  1. Transformator step up yaitu transformator yang mengubah tegangan bolak-balik rendah menjadi tinggi, transformator ini mempunyai jumlah lilitan kumparan sekunder lebih banyak daripada jumlah lilitan primer (Ns > Np).
  2. Transformator step down yaitu transformator yang mengubah tegangan bolak-balik tinggi menjadi rendah, transformator ini mempunyai jumlah lilitan kumparan primer lebih banyak daripada jumlah lilitan sekunder (Np > Ns).

Pada transformator (trafo) besarnya tegangan yang dikeluarkan oleh kumparan sekunder adalah:

  1. Sebanding dengan banyaknya lilitan sekunder (Vs ~ Ns).
  2. Sebanding dengan besarnya tegangan primer ( VS ~ VP).
  3. Berbanding terbalik dengan banyaknya lilitan primer,

Sehingga dapat dituliskan:

Penggunaan Transformator

Transformator (trafo) digunakan pada peralatan listrik terutama yang memerlukan perubahan atau penyesuaian besarnya tegangan bolak-balik. Misal radio memerlukan tegangan 12 volt padahal listrik dari PLN 220 volt, maka diperlukan transformator untuk mengubah tegangan listrik bolak-balik 220 volt menjadi tegangan listrik bolak-balik 12 volt. Contoh alat listrik yang memerlukan transformator adalah: TV, komputer, mesin foto kopi, gardu listrik dan sebagainya.

Contoh cara menghitung jumlah lilitan sekunder:

Untuk menyalakan lampu 10 volt dengan tegangan listrik dari PLN 220 volt digunakan transformator step down. Jika jumlah lilitan primer transformator 1.100 lilitan, berapakah jumlah lilitan pada kumparan sekundernya ?

Penyelesaian:
Diketahui: Vp = 220 V
Vs = 10 V
Np = 1100 lilitan

Ditanyakan: Ns = ........... ?

Jawab:

Jadi, banyaknya lilitan sekunder adalah 50 lilitan

http://genius.smpn1-mgl.sch.id/file.php/1/ANIMASI/fisika/Transformator/index.html

Selasa, 27 September 2011

POMPA INJEKSI BAHAN BAKAR

Pada mesin diesel hanya udara bersih yang dihisap dan dikompresikan. Bahan bakar dan udara dicampur di dalam silinder dengan cara setelah udara dikompresikan, bahan bakar disemprotkan kedalam ruang bakar sehingga terjadi pembakaran. Persyaratan tekanan udara kompresi 1,5-4 Mpa (15-40 bar) sehingga temperatur udara naik 700-900oc. Bahan bakar harus dikabutkan halus, oleh pompa injeksi pada tekanan (100-250 bar).

Ada dua cara penyemprotan bahan bakar kedalam ruang bakar yaitu injeksi langsung dimana injection nozzle menyemprotkan bahan bakar langsung keruang bakar utama (main combustion chamber) pada akhir langkah kompresi. Udara tertekan dan menerima pusaran cepat akibatnya suhu dan tekanannya naik bahan bakar cepat menguap dan menyala dengan sendirinya setelah disemprotkan.

Cara menyemprotan yang kedua ialah injeksi tidak langsung dimana bahan bakar disemprotkan oleh injection nozzle ke kamar depan (precombustion chamber). Udara yang dikompresikan oleh torak memasuki kamar pusar dan membentuk aliran turbulensi ditempat bahan bakar yang diijeksikan. Tetapi sebagian bahan bakar yang belum terbakar akan mengalir ke ruang bakar utama melalui saluran transfer untuk menyelesaikan pembakaran.

Pada sistem bahan bakar mesin diesel, feed pump menghisap bahan bakar dari tangki bahan bakar. Bahan bakar disaring oleh fuel filter dan kandungan air yang terdapat pada bahan bakar dipisahkan oleh fuel sedimenter sebelum dialirkan ke pompa injeksi bahan bakar. Dari pompa injeksi selanjutnya melalui pipa injeksi bahan bakar dialirkan ke injektor untuk diinjeksikan ke ruang bakar.

Ada dua tipe pompa injeksi pada sistem bahan bakar diesel yaitu pompa injeksi in-line dan pompa injeksi distributor.

http://m-edukasi.net/online/2008/sistemdiesel/mat1.html

Analisis dan Memperbaiki Gangguan Pada Sistem Bahan Bakar Diesel

1. Sistem Injeksi Bahan Bakar Tidak Berfungsi dengan Baik

Kemungkinan Penyebab Kerusakan / Gangguan Cara Mengatasi
a. Bahan bakar bocor dari pipa tekanan tinggi - Keraskan Mur Pengikat pipa tekanan tinggi / ganti dengan pipa tekanan yang baru
b. Nozzle rusak - Ganti dengan nozzle yang baru
c. Ada udara pada saluran bahan bakar - Keluarkan udara dari saluran bahan bakar dengan cara memompakan priming pump
d. Saat penginjeksian bahan bakar terlambat - Setel pada penginjeksian bahan bakar
e. Control rack tidak berfungsi - Perbaiki mekanisme control rack
f. Automatic timer tidak tepat - Setel automatic timer

2. Gangguan Pada Saluran Sistem Bahan Bakar

Kemungkinan Penyebab Kerusakan / Gangguan Cara Mengatasi
a. Saringan pada pompa pemindah tersumbat - Bongkar pompa pemindah dan bersihkan saringannya
b. Saringan bahan bakar tersumbat - Ganti elemen saringan bahan bakar
c. Tangki bahan bakar kotor - Bersihkan tangki bahan bakar
d. Kemampuan pompa pemindah yang sangat rendah - Perbaiki / ganti
e. Injeksi bahan bakar tidak tepat - Setel saat penginjeksian dengan cara menggeserkan pompa injeksi
f. Jumlah bahan bakar yang diinjeksikan ke silinder tidak sama - Kalibrasi pompa injeksi pada test bench
g. Governor kurang baik - Setel pompa injeksi pada test bench
h. Ada angin pada saluran bahan bakar - Bleeding
i. Bahan bakar bocor pada pipa tekanan tinggi - Keraskan mur pengikat pipa tekanan tinggi / ganti pipa tekanan tinggi

3. Engine Knocking / Detonasi

Kemungkinan Penyebab Kerusakan / Gangguan Cara Mengatasi
a. Atomisasi nozzle kurang baik / tekanan penginjeksian tidak tepat - Overhaul nozzle, bersihkan komponen-komponen dan ganti jika rusak, kemudian stel tekanan nozzle sesuai spesifikasi
b. Bahan bakar tidak tepat (angka cetane rendah) - Ganti dengan bahan bakar yang sesuai
c. Saat injeksi bahan bakar terlalu cepat - Setel pemasangan pompa terhadap mesin
d. Jumlah bahan bakar yang diinjeksikan ke dalam silinder tidak rata - Kalibrasi pompa injeksi pada test bench

4. Putaran Mesin Kasar, Khususnya Pada Putaran Idle

Kemungkinan Penyebab Kerusakan / Gangguan Cara Mengatasi
a. Jam bahan bakar yang diinjeksikan ke dalam silinder tidak sama - Kalibrasi pompa injeksi pada test bench
b. Control rack tidak berfungsi - Bongkar control rack dan setel mekanismenya
c. Idling spring capsule setelannya kurang baik - Setel
d. Diafragma governor tidak berfungsi - Periksa dan ganti jika rusak
e. Atomisai Nozzle kurang baik / tidak tepat - Stel nozzle dan ganti jika rusak

5. Mesin Susah dihidupkan

Kemungkinan Penyebab Kerusakan / Gangguan Cara Mengatasi
a. Bahan bakar tidak sampai ke pompa injeksi / bocor - Periksa saluran bahan bakar dan perbaiki jika bocor
b. Saluran bahan bakar tersumbat oleh udara - Bleeding
c. Saringan bahan bakar dan saluran bahan bakar tersumbat - Bersihkan / ganti saringan bahan bakar dan saluran bahan bakar
d. Kemampuan pompa pemindah menurun / tidak sesuai spesifikasi - Perbaiki / ganti pompa pemindah
e. Pipa tekanan tinggi lepas, longgar / pecah - Kerusakan mur / ganti
f. Control rack tidak mencapai posisi tempat bahan bakar yang diinjeksikan - Perbaiki control rack dan perbaiki pula mekanismenya
g. Delivery valve rusak - Ganti
h. Jumlah bahan bakar yang diinjeksikan terlalu sedikit, karena pompa pemindah rusak - Perbaiki / Ganti pompa pemindah
i. Tekanan penginjeksian bahan bakar terlalu rendah - Setel / kalibrasi nozzle sesuai spesifikasi
j. Saat penginjeksian bahan bakar terlalu rendah - Setel saat penginjeksian
k. Governor / full load capsule setelannya kurang baik - Setel pompa injeksi pada test bench

6. Mesin Asapnya Banyak, tetapi Mesin Tidak Mau Menyala

Kemungkinan Penyebab Kerusakan / Gangguan Cara Mengatasi
a. Saat penginjeksian bahan bakar terlambat - Setel saat penginjeksian
b. Timer lock nut longgar atau lepas - Kerusakan mur pengunci timer
c. Atomisasi bahan bakar tidak baik - Perbaiki dan setel nozzle / ganti
d. Kotoran (karbon) berkumpul pada nozzle needle - Bersihkan nozzle / ganti jika rusak
e. Angka cetane terlalu rendah - Ganti jenis bahan bakar
f. Bahan bakar tercampur air - Ganti bahan bakar

7. Selama Mesin di Starter Mengeluarkan banyak Asap

Kemungkinan Penyebab kerusakan Cara Mengatasi
a. Timer injektor timing terlalu cepat / lambat - Bongkar automatic timer dan setel
b. Pemasangan pompa injeksi terhadap saat penginjeksian tidak tepat - Periksa pemasangan pompa injeksi dan tempatkan saat penginjeksian (sesuai spesifikasi)
c. Atomisasi bahan bakar kurang baik - Perbaiki dan ganti nozzle
d. Nozzle rusak - Ganti Nozzle
e. Kotoran (karbon) berkumpul pada nozzle needle - Bersihkan dan ganti jika rusak
f. Sekrup control pinion clamp lepas / longgar - Setel posisi control pinion dan keraskan sekrupnya
g. Delivery value rusak - Ganti
h. Delivery value spring putus - Ganti pegas
i. Setelan full load capsule tidak baik - Setel full load capsule
j. Pneumatic governor link / stopper aus - Perbaiki / ganti mekanisme governor pneumatic

8. Selama Mesin Hidup Banyak Mengeluarkan Asap

Kemungkinan Penyebab kerusakan Cara Mengatasi
a. Saat penginjeksian bahan bakar terlalu cepat - Tepatkan saat penginjeksian sesuai spesifikasi
b. Bahan bakar bercampur air - Ganti bahan bakar
c. Cincin torak dan dinding silinder bocor sehingga minyak pelumas naik ke ruang bahan bakar - Ganti cincin torak dan perbaiki dinding silindernya
d. Oli silinder katup bocor, sehingga minyak pelumas masuk ke ruang bakar - Ganti
e. Bahan bakar yang diinjeksikan terlalu banyak - Kalibrasi pompa injeksi pada test bench
f. Jumlah bahan bakar yang diinjeksikan ke dalam silinder tidak sama - Kalibrasi pompa injeksi pada test bench
g. Udara yang masuk kedalam silinder terlalu sedikit karena saringan udaranya tersumbat - Bersihkan saringan / ganti
h. Oli mesin terpompa ke atas - Periksa permukaan oli dan sesuaikan jumlahnya
http://viozaax.wordpress.com/2008/11/13/analisis-dan-memperbaiki-gangguan-pada-sistem-bahan-bakar-diesel/

HIDROLIK



SISTEM PNEUMATIK



Diagram Pneumatik
Sistem Pneumatik pada umum nya berasal dari bahasa Yunani yang berarti Udara atau Angin. Semua sistem yang menggunakan tenaga yang disimpan dalam bentuk udara yang dimanpatkan untuk menghasilkan suatu kerja disebut sistem pneumatik.
1. Penggunaan Sistem Pneumatik atau Aplikasinya yaitu :
  • Rem kendaraan
  • Membuka dan menutup pintu
  • Pelepas dan penarik roda-roda pendaratan pesawat
  • dan lain-lain
2. Kelebihan pada Sistem Pneumatik yaitu :
  • Fluida kerja mudah didapat dan ditransfer
  • Penurunan tekanan relatif lebih kecil dibandingkan dengan Sistem Hidrolik
  • Viskositas fluida yang lebih kecil sehingga gesekan dapat diabaikan
  • Aman terhadap kebakaran
  • Dapat disimpan dengan baik
3. Sedangkan Kekurangan pada Sistem Pneumatik ini yaitu:
  • Gangguan suara yang bising
  • Gaya yang ditransfer sangat terbatas
  • Dapat terjadi pengembunan
Sistem Tekanan Tinggi
Untuk sistem tekanan tinggi, udara biasanya disimpan dalam tabung metal (Air Storage Cylinder) pada range tekanan dari 1000 – 3000 Psi, tergantung pada keadaan sistem.
Tipe dari tabung ini mempunyai 2 Klep, yang mana satu digunakan sebagai klep pengisian, dasar operasi Kompresor dapat dihubungkan pada klep ini untuk penambahan udara kedalam tabung. Klep lainnya sebagai klep pengontrol. Klep ini dapat sebagai klep penutup dan juga menjaga terperangkapnya udara dalam tabung selama sistem dioperasikan.
Sistem Tekanan Sedang
Sedangkan untuk Sistem Pneumatik tekanan sedang ini mempunyai range tekanan antara 100 – 150 Psi, biasanya tidak menggunakan tabung udara. Sistem ini umumnya mengambil udara terkompresi langsung dari motor kompresor.
Sistem Tekanan Rendah
Nah..kalau yang satu ini Tekanan udara rendah didapatkan dari pompa udara tipe Vane. Demikian pompa udara mengeluarkan tekanan udara secara kontinu dengan tekanan sebesar 1 –10 Psi. ke sistem Pneumatik. Itu lah ketiga sistem tersebut yang dapat saya paparkan.
KOMPONEN SISTEM PNEUMATIK
komponennya meliputi :
Kompresor

contoh kompresor
Kompresor digunakan untuk menghisap udara di atmosfer dan menyimpannya kedalam tangki penampung atau receiver. Kondisi udara dalam atmosfer dipengaruhi oleh suhu dan tekanan.

Pengertian Hidrolik

http://deephakan.blogspot.com/2009/08/hidrolik-sistemlerin-calma-prensibi.html

Untuk mengerti prinsip hidrolik kita harus mengetahui perhitungan dan beberapa hukum yang berhubungan dengan prinsip hidrolik.
Area adalah ukuran permukaan (in2, m2)
Force
Force adalah jumlah dorongan atau tarikan pada objek (lb, kg)
Unit Pressure
Unit pressure adalah jumlah kerkuatan dalam satu unit area (lb/in2, Psi)


Stroke
Stroke (panjang) adalah diukur berdasarkan jarak pergerakan pistin dalam silinder (in, m)
Volume
Volume diukur berdasarkan jumlah dalam in3, m3 yang dihitung berdasarkan jumlah fluida dalam reservoir atau dalam pompa atau pergerakan silinder.
Fluida
Fluida yang digunakan dalam bentuk liquid atau gas. Fluida yang digunakan dalam sistem hidrolik umumnya oli.
Hukum Pascal
Suatu aliran didalam silinder yang dilengkapi dengan sebuah penghisap yang mana kita dapat memakaikan sebuah tekanan luar po tekanan p disuatu titik P yang sebarang sejarak h dibawah permukaan yang sebelah atas dari cairan tersebut diberikan oleh persamaan.
P = Po + ρgh
Prinsip Pascal, tekanan yang dipakaikan kepada suatu fluida tertutup diteruskan tanpa berkurang besarnya kepada setiap bagian fluida dan dinding-dinding yang berisi fluida tersebut. Hasil ini adalah suatu konsekuensi yang perlu dari hokum-hukum mekanika fluida, dan bukan merupakan sebuah prinsip bebas.
Hubungan dari Istilah-istilah Dengan Diagram Segitiga

-Tekanan
Sebagai contoh, diketahui gaya sebesar 100 lbs mendorong piston dengan luas permukaan 4 in2 maka dapat kita ketahui tekanan F/A = 25 lbs/in2 (psi).

-Volume
Jika piston mempunyai luas permukaan 8 in2 bergerak dengan jarak 10 in dalam silinder. Berapa volume fluida yang dibutuhkan untuk menggerakan piston, menggunakan diagram segitiga diatas maka v = A.l, jadi v= 80 in3



Keuntungan Mekanik
Dapat kita lihat ilustrasi dari keuntungan mekanik, ketika gaya 50 lbs dihasilkan oleh piston dengan luas permukaan 2 in2, tekanan fluida dapat menjadi 25 psi . dengan tekanan 25 psi pada luas permukaan 10 in2 dapat dihasilkan gaya sebesar 250 lbs.
Komponen Sistem Hidrolik
Motor Hidrolik


motor hidrolik
Motor hidrolik berfungsi untuk mengubah energi tekanan cairan hidrolik menjadi energi mekanik.


Pompa Hidrolik

pompa hidrolik
Pompa umumnya digunakan untuk memindahkan sejumlah volume cairan yang digunakan agar suatu cairan tersebut memiliki bentuk energi.
Katup (Valve)


Katup (Valve)
http://elktrodoctore.blogspot.com/2011/06/v-behaviorurldefaultvmlo.html

Komponen utama Sistem Hidrolik


Sistem hidrolik ini didukung oleh 3 unit komponen utama, yaitu:

1. Unit Tenaga, berfungsi sebagai sumber tenaga dengan liquid/ minyak hidrolik

Pada sistem ini, unit tenaga terdiri atas:

  • Penggerak mula yang berupa motor listrik atau motor bakar
  • Pompa hidrolik, putaran dari poros penggerak mula memutar pompa hidrolik sehingga pompa hidrolik bekerja
  • Tangki hidrolik, berfungsi sebagai wadah atau penampang cairan hidrolik
  • Kelengkapan (accessories), seperti : pressure gauge, gelas penduga, relief valve

2. Unit Penggerak (Actuator), berfungsi untuk mengubah tenaga fluida menjadi tenaga mekanik

Hidrolik actuator dapat dibedakan menjadi dua macam yakni:

  • Penggerak lurus (linier Actuator) : silinder hidrolik
  • Penggerak putar : motor hidrolik, rotary actuator

3. Unit Pengatur, berfungsi sebagai pengatur gerak sistem hidrolik.

Unit ini biasanya diwujudkan dalam bentuk katup atau valve yang macam-macamnya akan dibahas berikut ini.

3.1 Katup Pengarah (Directional Control Valve = DCV)

Katup (Valve) adalah suatu alat yang menerima perintah dari luar untuk melepas, menghentikan atau mengarahkan fluida yang melalui katup tersebut.

Contoh jenis katup pengarah: Katup 4/3 Penggerak lever, Katup pengarah dengan piring putar, katup dengan pegas bias.

3.2 Macam-macam Katup Pengarah Khusus

1) Check Valve adalah katup satu arah, berfungsi sebagai pengarah aliran dan juga sebagai pressure control (pengontrol tekanan)

2) Pilot Operated Check Valve, Katup ini dirancang untuk aliran cairan hidrolik yang dapat mengalir bebas pada satu arah dan menutup pada arah lawannya, kecuali ada tekanan cairan yang dapat membukanya.

3) Katup Pengatur Tekanan, Tekanan cairan hidrolik diatur untuk berbagai tujuan misalnya untuk membatasi tekanan operasional dalam sistem hidrolik, untuk mengatur tekanan agar penggerak hidrolik dapat bekerja secara berurutan, untuk mengurangi tekanan yang mengalir dalam saluran tertentu menjadi kecil.

Macam-macam Katup pengatur tekanan adalah:

a. Relief Valve, digunakan untuk mengatur tekanan yang bekerja pada sistem dan juga mencegah terjadinya beban lebih atau tekanan yang melebihi kemampuan rangkaian hidrolik.

b. Sequence Valve, berfungsi untuk mengatur tekanan untuk mengurutkan pekerjaan yaitu menggerakkan silinder hidrolik yang satu kemudian baru yang lain.

c. Pressure reducing valve, berfungsi untuk menurunkan tekanan fluida yang mengalir pada saluran kerja karena penggerak yang akan menerimanya didesain dengan tekanan yang lebih rendah.

4) Flow Control Valve, katup ini digunakan untuk mengatur volume aliran yang berarti mengatur kecepatan gerak actuator (piston).

Fungsi katup ini adalah sebagai berikut:

  • untuk membatasi kecepatan maksimum gerakan piston atau motor hidrolik

  • Untuk membatasi daya yang bekerja pada sistem

  • Untuk menyeimbangkan aliran yang mengalir pada cabang-cabang rangkaian.

Macam-macam dari Flow Control Valve :

  • Fixed flow control yaitu: apabila pengaturan aliran tidak dapat berubah-ubah yaitu melalui fixed orifice.

  • Variable flow control yaitu apabila pengaturan aliran dapat berubah-ubah sesuai dengan keperluan

  • Flow control yang dilengkapi dengan check valve

  • Flow control yang dilengkapi dengan relief valve guna menyeimbangkan tekanan

Menggambar Rancangan Rangkaian Hidrolik

Setelah kita pelajari komponen-komponen sistem hidrolik secara detail dan juga telah kita pelajari berbagai simbol dari setiap komponen sebagai bahasan tenaga fluida, demikian juga telah kita pelajari cara membaca diagram rangkaian (circuit diagram) maka akan kita mulai dengan cara mendesain (merancang) suatu rangkaian sesuai dengan yang kita kehendaki bila telah tersedia komponen-komponen sistem hidrolik.

Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam merancang rangkaian hidrolik adalah:

  • Tujuan penggunaan rangkaian

  • Ketersediaan komponen

  • Konduktor dan konektor yang digunakan macam apa

  • Tekanan kerja sistem hidrolik berapa

Rancangan rangkaian hidrolik perlu dituangkan dalam bentuk diagram rangkaian hidrolik dengan menggunakan simbol-simbol grafik, dengan bantuan simbol-simbol grafik para desainer dapat menuangkan pemikiran lebih mudah, lebih tenang sehingga dapat berkreasi seoptimal mungkin.

Cara membuat diagram rangkaian biasanya dengan membuat tata letak komponen sebagai berikut:

  • Actuator diletakkan pada gambar yang paling atas

  • Unit pengatur diletakkan di bawahnya

  • Unit tenaga diletakkan pada bagian paling bawah

  • Setelah simbol-simbol komponen lengkap dalam lay out (tata letak) barulah digambar garis-garis penghubung sebagai gambar konduktor dengan garis-garis sesuai dengan macam konduktor yang digunakan

Gambar. Tata letak komponen hidrolik

Gambar. Diagram rangkaian hidrolik lengkap


http://bintangotomotif.izihost.tk/Data2/Sistem%20Hidrolik/materi01c.html

Principal circuit diagram for open loop and closed loop system.
http://en.wikipedia.org/wiki/Hydraulic_drive_system

Senin, 26 September 2011

Ban Radial


Perbedaan mendasar dari Ban Bias dan Radial terletak pada susunan benang yang mengikat,
berikut perbedaan detailnya sebagai berikut :

Perbedaan ban bias dan ban radial

Ban pada dasarnya diklasifikasikan ke dalam dua struktur sebagai berikut:

Struktur Bias
Ban dengan struktur bias adalah yang paling banyak dipakai. Dibuat dari banyak lembar cord yang digunakan sebagai rangka (frame) dari ban. Cord ditenun dengan cara zig-zag membentuk sudut 40 sampai 65 derajat sudut terhadap keliling lingkaran ban.

Struktur Radial
Untuk ban radial, konstruksi carcass cord membentuk sudut 90 derajat sudut terhadap keliling lingkaran ban. Jadi dilihat dari samping konstruksi cord adalah dalam arah radial terhadap pusat atau crown dari ban. Bagian dari ban berhubungan langsung dengan permukaan jalan diperkuat oleh semacam sabuk pengikat yang dinamakan "Breaker" atau "Belt". Ban jenis ini hanya menderita sedikit deformasi dalam bentuknya dari gaya sentrifugal, walaupun pada kecepatan tinggi. Ban radial ini juga mempunyai "Rolling Resistance" yang kecil.


Perbedaan ban pakai ban dalam dan tanpa ban dalam (tubeless)




  1. Tread adalah bagian telapak ban yang berfungsi untuk melindungi ban dari benturan, tusukan obyek dari luar yang dapat berusak ban. Tread dibuat banyak pola yang disebut Pattern.
  2. Breaker dan Belt adalah bagian lapisan benang ( pada ban biasa terbuat dari tekstil , sedang ban radial terbuat dari kawat) yang diletakkan diantara tread dan Casing. Berfungsi untuk melindungi serta meredam benturan yang terjadi pada Tread agar tidak langsung diserap oleh Casing.
  3. Casing adalah lapisan benang pembentuk ban dan merupakan rangka dari ban yang menampung udara bertekanan tinggi agar dapat menyangga ban.
  4. Bead adalah bundelan kawat yang disatukan oleh karet yang keras dan berfungsi seperti angkur yang melekat pada Pelek.


Tabel Konversi Ply Rating dengan Load Range

PLY RATING

LOAD RANGE

PLY RATING

LOAD RANGE

2
A
14
G
4
B
16
H
6
C
18
J
8
D
20
L
10
E
22
M
12
F
24
N




Tabel indek beban adalah kode numerik yang menunjukkan kapasitas maksimum pembebanan pada kecepatan tertentu, sesuai dengan spesifikasi ban tersebut dalam standar, sampai dengan kecepatan 210 km/jam, bila melebihi kecepatan 210 km/jam, kapasitas pembebanan maksimum harus dikurangi sesuai dengan standar yang berlaku.

INDEK BEBAN

KG

INDEK BEBAN

KG

70
335
100
800
71
345
101
825
72
355
102
850
73
365
103
875
74
375
104
900
75
387
105
925
76
400
106
950
77
412
107
975
78
425
108
1000
79
437
109
1030
80
450
110
1060
81
462
111
1090
82
475
112
1120
83
487
113
1150
84
500
114
1180
85
515
115
1215
86
530
116
1250
87
545
117
1285
88
560
118
1320
89
580
119
1360
90
600
120
1400
91
615
121
1450
92
630
122
1500
93
650
123
1550
94
670
124
1600
95
690
125
1700
96
710
126
1750
97
730
127
1800
98
750
128
1850
99
775
129
1900




Simbol kecepatan adalah simbol (huruf alfabet) yang menunjukan batas maksimum kecepatan sebuah ban yang dipacu dengan membawa beban yang sesuai dengan spesifikasi yang telah ditetapkan dalam standar, selama 1 (satu) jam terus menerus.

SIMBOL KECEPATAN

KECEPATAN
(KM/JAM)

SIMBOL KECEPATAN

KECEPATAN
(KM/JAM)

A1
5
K
110
A2
10
L
120
A3
15
M
130
A4
20
N
140
A5
25
P
150
A6
30
Q
160
A7
35
R
170
A8
40
S
180
B
50
T
190
C
60
U
200
D
65
H
210
E
70
V
240
F
80
W
270
G
90
Y
300
J
100
Z
DI ATAS 240




http://72morang.blogspot.com/2009/07/ban-radial-vs-ban-bias.html